Seleksi LPDP 2017 – Sebuah Nostalgia

Pendaftaran LPDP tahun ini telah dibuka. Pengumuman ini tentunya menjadi kabar gembira bagi teman-teman yang telah lama menantikan saat-saat untuk mendaftar beasiswa LPDP, setelah di tahun sebelumnya LPDP hanya dikhususkan untuk profesi-profesi tertentu. Terlebih lagi, lebih banyak kampus yang tersedia yang bisa dipilih teman-teman untuk melanjutkan studinya.

Pengumuman ini membuat saya bernostalgia tentang pengalaman saya mendaftar beasiswa ini di tahun 2017 dulu. Kalau dipikir-pikir, rasanya hampir tidak mungkin saya bisa mengirimkan berkas-berkas saya dikarenakan pada tahun 2017, saya sedang bertugas menjadi guru SD kontrak di Halmahera Selatan. Saya mengajar di sebuah desa yang letaknya tiga jam dari ibu kota kabupaten yang tidak memiliki akses internet sama sekali. Saya teringat, dulu kalau ada kesempatan ke kota, saya mengunduh materi-materi untuk persiapan LPDP (termasuk blog teman saya, Yogi), lalu saya bawa ke desa. Saya baca pelan-pelan persyaratannya di laptop tua saya yang daya baterainya sudah tidak seberapa, sehingga saya mengerjakan draft esai-esai dengan di selembar kertas dengan menggunakan pensil tumpul. Ketika saya pergi ke kota lagi, baru saya ketik esai-esai tersebut, dan meminta teman saya Kak Eja untuk membaca dan memberi masukan pada esai saya.

Di ibukota kabupaten pun (Pulau Bacan), terkadang sinyal tidak lancar. Jadi kalau di basecamp sedang tidak ada kerjaan, saya pergi ke kedai bubur yang internetnya lumayan lancar untuk berjaga-jaga kalau-kalau proses tethering di basecamp tidak lancar. Keberadaan internet benar-benar menjadi pemacu saya untuk fokus dan menyiapkan dokumen seefektif mungkin. Saya bahkan baru memutuskan ke negara mana saya akan belajar beberapa hari sebelum pendaftaran LPDP ditutup. Saya memilih Australia, dengan pertimbangan dua tahun belajar, dan juga jurusan yang saya ingin pelajari – kebijakan pendidikan.

Keinginan untuk mendaftar S2 muncul setelah beberapa bulan saya mengajar. Pada saat itu, saya merasa gelisah melihat tuntutan kurikulum nasional (misal, kelas 4 SD harus sudah bisa A, B, C), sedangkan murid-murid saya tinggal di daerah terpencil, dengan keterbatasan akses dan fasilitas serta minimnya jumlah guru yang berkualitas. Saya ingin belajar kebijakan pendidikan, supaya saya bisa mengerti apa yang harus saya lakukan untuk menanggulangi hal-hal tersebut di masa depan.

Salah satu acara di desa
Bersama anak-anak Halmahera Selatan

Kalau sekarang dipikir-pikir, aneh juga saya punya dorongan untuk mendaftar LPDP. Sebagai latar belakang, di kuliah S1 saya dulu, saya bukanlah mahasiswi dengan prestasi akademik yang cermerlang. IPK saya sangat pas-pasan, itu juga hasil mengulang beberapa kelas ilmu-ilmu dasar biologi. Waktu saya sidang S1 pun (tapi kebetulan saya bisa lulus tepat waktu) ada adik kelas yang bilang ke saya ‘Loh kok Teteh udah sidang lagi?’ saking banyaknya kelas yang saya ulang.

Dulu pendorong utama saya adalah karena setelah lulus S1, saya punya sertifikat IELTS. Goal saya mendaftar bahkan waktu itu hanya untuk mencari pengalaman, menimbang persiapan saya sungguh seadanya saja, dan saya tidak yakin kalau saya akan mendapatkan beasiswa di tahun 2017. Ternyata, tahun 2017 adalah tahun yang tepat, dikarenakan pendaftaran LPDP di tahun-tahun setelahnya menjadi lebih sulit (menurut saya). Mungkin semesta tahu, kapasitas saya cocoknya untuk mendaftar di tahun tersebut.

Setiap Proses Berbeda Pulau

Saya mengirimkan berkas-berkas saya ketika saya berada di ibukota kabupaten, yaitu Pulau Bacan. Setelah itu, saya melanjutkan mengajar dan mengerjakan beberapa persiapan kegiatan sosial dengan teman-teman saya.

Saya dinyatakan lolos tahap satu beberapa saat sebelum saya dan teman-teman berangkat ke Pulau Halmahera, untuk melaksanakan rangkaian kegiatan tujuhbelasan di Desa Maffa, Gane Timur. Tahap selanjutnya adalah tes kepribadian online. Melihat kekuatan sinyal di Desa Maffa yang sangat mengkhawatirkan, saya sudah pasrah kalau-kalau saya tidak bisa mengikuti tes online tersebut. Namun anehnya di hari untuk tes online tersebut, saya mendapatkan tugas untuk menjemput dua orang jurnalis yang akan meliput kegiatan kami di Kota Sofifi. Saya menempuh perjalanan darat selama lebih dari tiga jam, dan sambil menunggu kakak-kakak jurnalis datang dari Kota Ternate, saya mengerjakan tes online dengan tethering internet. Waktu itu, hanya ada beberapa kali kesempatan login, dan saya baru lancar mengerjakan pertanyaan di kesempatan login terakhir saya dikarenakan sinyal yang tidak stabil. Kakak-kakak jurnalis datang di saat yang bertepatan dengan waktu selesainya saya mengerjakan tes online. Setelahnya, saya sibuk dengan acara tujuhbelasan (yang penuh konflik dan menguras tenaga), dan juga persiapan untuk perpisahan dengan desa penempatan saya.

Saya mendapatkan kabar kalau saya lulus ke tahap akhir, yaitu wawancara, di kapal kayu pada saat perjalanan terakhir saya dari desa penempatan saya setelah malam perpisahan. Beberapa menit sebelum berlabuh di Pulau Bacan, ada ratusan pesan WhatsApp yang masuk, dan juga email dari LPDP. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk pulang cepat dan mempersiapkan tes tahap akhir di kota kelahiran saya, Bandung, beberapa minggu kemudian.

Singkat cerita, proses pun wawancara berjalan lancar (sekitar 15-20 menit), dikarenakan waktu itu waktu wawancara saya sudah mendekati waktu makan siang, sehingga pewawancara hanya menanyakan hal-hal esensial (perkenalkan diri, pengalaman apa saja, mau kuliah di mana, kalau sudah lulus mau kerja di mana). Saking singkatnya, saya sampai terheran-heran dan bertanya “thats all, Sir?”. Saya sempat berpikiran negatif bahwa mereka tidak tertarik dengan cerita saya, namun sekarang dugaan saya lebih kepada rasa lapar yang mendera karena sudah waktunya jam makan siang. Ohya, sebelum wawancara, saya berlatih dengan kelompok belajar saya (yang kapan-kapan akan saya ceritakan di tulisan lainnya).

Sekarang setelah saya menyelesaikan S2 saya dan kembali hidup di kota besar, saya masih merasa tidak mungkin saya dapat melalui proses seleksi LPDP di tahun 2017, mengingat latar belakang saya sebagai mahasiswi dengan kemampuan akademis sedang-sedang saja, dan juga kondisi saya yang sedang bertugas di tempat minim akses serta tekanan kerja (konflik dan tenaga) yang tinggi.

Namun kini saya mengerti, ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi hidup saya. Kalau sudah jalannya, sesulit apapun rintangannya pasti bisa dilalui. Sebetulnya sampai sekarang pun saya masih belajar menerapkan konsep ini di kehidupan saya sehari-hari. Saya masih terbawa perasaan kalau saya tidak berhasil mendapatkan target saya, padahal ya belum jalannya saja atau akan digantikan dengan hal yang lebih baik menurut Yang Maha Kuasa.

But yeah, thats life! Learning is a never ending process, so enjoy the ride!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s